TOPENG & BADUT

3 Feb 2009

Oleh : Tengku Imam Kobul Moh Yahya S, ST

Topeng adalah benda yang dipakai di atas wajah. Biasanya topeng dipakai untuk mengiringi musik kesenian daerah. Topeng di kesenian daerah umumnya untuk menghormati sesembahan atau memperjelas watak dalam mengiringi kesenian. Bentuk topeng bermacam-macam ada yang menggambarkan watak marah, ada yang menggambarkan lembut, dan adapula yang menggambarkan kebijaksanaan.

Topeng masuk Indonesia pada sekitar abad ke-17. Secara luas digunakan dalam tari yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur. Diyakini bahwa topeng berkaitan erat dengan roh-roh leluhur yang dianggap sebagai interpretasi dewa-dewa. Pada beberapa suku, topeng masih menghiasi berbagai kegiatan seni dan adat sehari-hari.

Lainnya dengan rupa yang sangat mirip adalah Badut. Profesi badut sebenarnya cukup tua. Konon, sejak zaman Yunani kuno dan Romawi kuno, sudah ada manusia penghibur yang memoles wajahnya dengan bedak tebal dan berpakaian aneh, serta fasih memperagakan mimik-mimik lucu.

Mereka tak hanya membuat tertawa orang-orang kaya yang stres lewat pertunjukan. Tapi juga menghibur dan mencari nafkah di jalan-jalan atau yang dikenal dengan istilah ngamen. Dengan kemampuan berpantonim dengan gerakan-gerakan slapstik yang konyol, boleh jadi merekalah salah satu penjaja hiburan jalanan tertua di dunia.

Di Abad Pertengahan (sekitar tahun 500-1.500 masehi) terdapat karakter badut yang sangat terkenal. Masyarakat Eropa, khususnya Italia, mengenalnya sebagai arlecchino atau harlequin, yang dipopulerkan kelompok sandiwara commedia dell `arte. Kostum yang digunakan masih sangat sederhana.

Salah satu pelopor pemakaian kostum badut modern, sekaligus bintang sirkus di awal abad ke-18 masehi, adalah karakter Jocy yang diciptakan Joseph Grimaldi. Konon, kelebihan Jocy yang membuatnya dikenang dalam sejarah perbadutan adalah kemampuannya menghidupkan tokoh badut yang diperankan. Jocy tak sekadar melucu, tapi juga memainkan perasaan penontonnya, lewat mimik sedih, bahkan ketakutan.

Badut/Topeng Politik

Menjelang pelaksanaan pemilu yang sudah menghitung hari, badut politik bertebaran. Mereka menebar senyum layaknya permaisuri raja dan pangeran, menebar janji, seolah layak menjadi guru yang akan digugu, memperkenalkan diri sebagai tokoh yang pro rakyat kecil, buruh, pedagang kaki lima, nelayan, petani, sopir angkot, tukang bejak pokoknya pelindung masyarakat pinggiran kaum alit.

Dengan topeng dan make up, mereka terus plesir dan melacurkan diri lewat iklan spanduk dan baliho besar-besar dijalanan, seolah berlomba menawarkan kebutuhan rakyat. Dalam poster ada yang menjanjikan kesejahteraan, sembako murah, pendidikan gratis, kesehatan gratis, asuransi gratis, hingga hal-hal lain yang menjadi kebutuhan rakyat sesaat terpenuhi sudah.

Yang lebih menggelitik, ada salah satu stiker dari caleg Demokrat untuk DPR RI Daerah Pemilihan Kota Bekasi-Kota Depok yang mencantumkan program mendukung pendidikan gratis, murah dan bermutu. Anehnya, salah satu pendirian sekolah tingkat menengah di tempat tinggalnya terbengkalai alias tidak mendapat ijin, karena si caleg keberatan dan merasa risih serta tidak memberi ijin dengan pembangunan sekolah tersebut.

Dengan demikian, beberapa caleg perlu diwaspadai. Sebab mereka saat ini hanya bersandiwara memakai topeng dan memerankan badutyang boleh jadi mereka memiliki watak tidak sama dengan tulisan pada brosur itu. Jika benar beberapa caleg hanya sedang memerankan badut dengan topeng pengayom aspirasi rakyat, sungguh badut politik yang bertopeng itu tidak layak untuk dipilih. Karena pada dasarnya topeng dan badut hanya dapat menghibur kita untuk sesaat. Setelah terpilih, mereka akan lupa, dan membuka topeng serta berhenti menjadi badut.

Jadi, pada pemilu kali ini mungkin banyak diantara caleg kita yang memakai topeng dan memerankan badut. Pilihan kita adalah anggaplah mereka sebagai hiburan belakaambil duitnya, tapi jangan coblos orangnya.

Barangkali benar kata penulis lagu beken Amerika Serikat, Cole Porter (1893-1964) “All the world loves a clown” . Ya, sepertinya memang tak seorang pun di muka bumi ini yang tak suka badut. Tak salah kalau dia layak diberi gelar warga favorit dunia. Jadi, salah kalau anda menjadikan badut politik yang memakai topeng itu sebagai pilihan untuk mengakomodir aspirasi anda. ***


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post